Pimpinan Cabang Muhammadiyah & 'Aisyiyah Pekajangan menggelar acara Pengajian dan Silaturahmi dengan tema "Merebut Kembali Kemenanangan Dialektika Muhamamdiyah" dengan pembicara Dr. KH. Nurbani Yusuf, M.Si pada Ahad, 26 Syawal 1445H / 5 Mei 2024 yang berlangsung di Gedung Koperasi Batik Pekajangan, acara dihadiri oleh 700-an undangan dari PDM & PDA Kab. Pekalongan, PCM & PCA Pekajangan serta jajaran Majelis, Lembaga & unsur pembantu beserta AUM & ORTOM, serta 16 ranting se-Cabang Pekajangan.
Dalam sambutan iftitahnya, Ketua Umum PDM Kab. Pekalongan, Drs. KH. Mulyono Kastari memaparkan pentingnya meguatkan idelologi Muhammadiyah, khususnya tentang hal ibadah, sehingga pemahaman dan wawasan tidak tertuju pada satu pemikiran saja, khususnya era sekarang maraknya informasi dimedia sosial khususnya Youtube. Untuk itulah warga Muhammadiyah bisa bijak memilah informasi yang ada.

H. Abdul Shomad, SE dalam sambutannya menjelaskan bahwa Muhammadiyah Pekajangan memasuki abada yang ke-2, menurut Dr. KH. Nurbani, M.Si Muhammadiyah tidak hanya menjadi atasan saja, hendaknya turun masuk ke wilayah dibawah, sehingga Muhammadiyah bisa lebih menyeluruh baik ideologi maupun gerakannya. Beliau juga menginformasikan bahwa Muhammadiyah Pekajangan memasuki abad ke-2 yang mengelola PAUD sampai Perguruan Tinggi dan amal usaha lainnya di Pekajangan, dan sekarang sudah menambah AUM baru yaitu Sekolah Luar Biasa khususnya di Kabupaten Pekalongan. "Antusias warga Muhammadiyah & 'Aisyiyah sungguh luar biasa, mudah-mudahan bisa berkhidmat lebih baik di Muhammadiyah" imbuh beliau.
Mengawali pengajiannya Dr. KH. Nurbani Yusuf, M.Si, menjelaskan sejarah peran Muhammadiyah dalam perkembangan berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Muhammadiyah adalah organisasi yang berkemajuan, artinya tidak terpaut amalan tekstual yang dikerjakan zaman dahulu, Muhammadiyah tidak ketinggalan dalam bidang Kesehatan, Pendidikan, hal-hal yang berkaitan dengan ibadah. KH. Ahmad Dahlan melakukan pembaharu, pada waktu itu khusunya mencari guru ilmu hitung, ilmu ukur dan sebagainya yang pada waktu belum ada dari pengajar islam, sampai akhirnya beliau melakukan perubahan dengan mengundang guru dari luar islam yang ahli dibidangnya. Lanjut beliau, warga Muhammadiyah tidak harus mempermasalahkan ikhtilaf khususnya dalam beragama agar tidak menjadi permasalahan dengan organisasi lain. Beliau perpesan, untuk bertakdzim kepada pendahulu kita, untuk selalu mendoakan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang berjuang dalam syiar islam di Indonesia.


Sumber Berita dari MPI PCM Pekajangan
Powered by Froala Editor