MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN.OR.ID, KEDUNGWUNI - Dalam rangka menyemarakkan Musyawarah Nasional (MUNAS) Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang ke-32 di Pekalongan, Masjid At-Taqwa menggelar pengajian umum dengan pemateri dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S.,M.Kes (PP Muhammadiyah Bidang Pembinaan, Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial & Reseliensi Bencana) dan Dr. KH. Tafsir., M.Ag (Ketua Umum PWM Jawa Tengah) yang adakan Rabu maalam (11 Sya'ban 1445H/21 Februari 2024) yang dihadiri warga Muhammadiyah Kabupaten/Kota Pekalongan dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PDM Kabupaten Pekalongan, Drs. KH. Mulyono Kastari, mengucapkan terima kasih dan mengapresiasikan kepada segenap panitia dalam penyelenggaraan Munas Tarjih ke-32 di Pekaongan, harapannya semoga berhasil membawa keputusan untuk kemanfaatan umat manusia. Pekalongan tidak asing dengan tarjih, Pekalongan menjadi tempat kelahiran Majelis Tarjih sekitar tahun 1926-an, yang mana pada waktu itu KH. Mas Mansyur, seorang priyayi Surabaya yang bermukim di Pekalongan. Pelaksanaan Munas Tarjih ke-32 ini menandai sudah satu abad di kabupaten Pekalongan, semoga bisa menyatukan kaum muslimin dalam penanggalan global.

Mengawali pengajian umum yang pertama oleh dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S.,M.Kes, dalam tausiyahnya menjelaskan Muhammadiyah diawali dengan kelompok pengajian sejak KH. Ahmad Dahlan, dengan memulai pada surat al-'asr, sehingga
spirit untuk ngaji pada waktu sangat spektakuler membawa masyarakat khususnya kaum muda untuk giat belajar. Beliau menekankan pentingya mengikuti kajian jika bekerja di AUM Muhammadiyah sebagai penguatan beramal usaha serta
wasaiat rasul yaitu menjaga kesehatan dan waktu luang untuk digunakan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai mengabaikan kesehatan, karena mahal harganya, beliau juga berpesan untuk menghindari mudah marah agar jiwa tidak lemah, "Marah 5 menit akan menurunkan kekebalan tubuh selama 5 jam" tuturnya.
Dr. KH. Tafsir, M.Ag, dalam tausiyah sesi ke-2 mengemukaan bahwa Muhammadiyah Pekajangan bisa menjadi tradisi & akarnya Muhammadiyah sebagai tolak ukur. Dalam Kitab Al ahkasmus Sultoniyah, kekuasan adalah pengganti tugas kenabian yang mengurus kehidupan dunia dan akhirat, politik tidak bisa dipisahkan dari islam, inilah yang menjadi dilema dalam Muhammadiyah, karena politik butuh kepala yang banyak, khususnya pendukung. Dalam berdakwah, penting untuk mengedepankan sikap yang ramah dan penuh kegembiraan. Pesan dakwah sebaiknya disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan tidak mempersulit orang lain. Memiliki pendekatan yang ramah dan menggembirakan dapat membuat orang merasa nyaman dan terbuka untuk menerima pesan yang disampaikan. Menghindari sikap yang membuat orang merasa tertekan atau terbebani juga sangat penting, karena hal tersebut dapat membuat mereka enggan untuk mendengarkan atau bahkan melarikan diri dari pesan yang ingin disampaikan. Beliau juga menjelaskan pengertian salaf, siapa yang paling benar diantara para golongan tersebut. Didalam Muhammadiyah tidak terprovokasi masalah salaf, karena yang dinilai amalnya.

Powered by Froala Editor