MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN.OR.ID,PEKAJANGAN - Muhammadiyah Pekajangan dianggap sebagai organisasi Muhammadiyah tertua di wilayah Pantura. Didirikan oleh KH. Abdurrahman yang diresmikan oleh Sang Pendiri Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 15 November 1922. Kedudukan strategis Muhammadiyah Pekajangan dalam sejarah Pekalongan patut diperhatikan, karena merupakan cabang Muhammadiyah pertama yang didirikan sebelum berdirinya Muhammadiyah Pekalongan.
Dengan berakhirnya masa kepemimpinan periode muktamar ke-47, Muhammadiyah dan 'Aisyiyah mengadakan Musycab untuk kepemimpinan periode Muktamar ke-48, Sabtu (8/07) Acara musycab yang dihadiri oleh 16 ranting se-cabang Muhammadiyah Pekajangan, Ortom, Majelis-Lembaga dan AUM. Selain itu, peserta Musycab juga akan dilakukan evaluasi terhadap program kerja yang telah dilaksanakan sebelumnya. Evaluasi ini penting untuk mengevaluasi kinerja dan efektivitas program-program yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah Pekajangan. Dengan melakukan evaluasi, diharapkan dapat diketahui keberhasilan dan kelemahan dari setiap program, serta dapat ditemukan solusi dan perbaikan untuk mengoptimalkan program-program tersebut.
Evaluasi program kerja juga menjadi momen penting dalam mengevaluasi kinerja para peserta Musycab. Dengan melakukan evaluasi terhadap partisipasi dan kontribusi peserta, dapat dilihat sejauh mana kemampuan dan penguasaan informasi peserta terkait program-program Muhammadiyah Pekajangan. Evaluasi ini akan membantu dalam mengevaluasi kualitas pemimpin-pemimpin masa depan dan memberikan arahan untuk pengembangan dan peningkatan kompetensi peserta.

Dalam Musycab Muktamar ke-48 Muhammadiyah Cabang Pekajangan, peserta akan memiliki kesempatan untuk memilih calon 9 formatur. Sebelum acara Musycab berlangsung, para calon formatur telah di sosialisasikan kepada peserta menggunakan media digital. Melalui media ini, peserta dapat mengenal lebih dekat latar belakang, kompetensi, dan rencana program kerja dari masing-masing calon formatur.
Untuk memastikan proses pemilihan formatur berjalan dengan adil dan transparan, pemilihan tersebut akan disaring melalui e-voting. Dalam e-voting, peserta Musycab dapat menggunakan perangkat elektronik mereka, seperti smartphone atau laptop, untuk memberikan suara mereka. Metode ini memungkinkan peserta untuk memberikan pilihan mereka dengan lebih mudah, cepat, dan efisien.

Selain itu, dengan menggunakan e-voting, keamanan dan kerahasiaan suara peserta dapat terjaga dengan baik. Sistem e-voting yang andal akan memberikan kepercayaan kepada peserta bahwa setiap suara mereka akan dihitung dengan akurat dan dijamin kerahasiaannya.
Dengan adanya proses pemilihan formatur yang melibatkan peserta Musycab dan menggunakan Sistem e-voting, diharapkan tercipta kepercayaan, partisipasi yang tinggi, dan keberlanjutan dalam memilih formatur yang mampu memimpin Muhammadiyah Pekajangan ke arah yang lebih baik. Tindakan ini juga menunjukkan komitmen Muhammadiyah Pekajangan dalam menerapkan teknologi sebagai sarana untuk memajukan organisasi dan menjalankan proses demokrasi internal.

Menurut dr. H. Ahmad Dahlan, Sp.OG, selaku Ketua Umum Cabang Muhammadiyah Pekajangan, PCM Pekajangan memiliki banyak tantangan di era digitalisasi saat ini. Salah satu tantangan terbesarnya adalah maraknya berita hoaks yang tersebar di media sosial dan platform digital lainnya. Beliau berharap agar PCM Pekajangan mampu menepis informasi yang hoaks dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan literasi digital dan mengajarkan cara memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat mendapatkan informasi yang akurat dan dapat membangun budaya bermedia yang sehat.
Dra. Hj. Herowati selaku Ketua Umum ‘Aisyiyah Cabang Pekajangan, menekankan pentingnya bersatu dalam satu barisan dan saling mengisi serta melengkapi di dalam organisasi. Menurutnya, organisasi yang solid dan efektif adalah yang tidak mengutamakan ego individu atau kepentingan politik, tetapi lebih fokus pada kolaborasi. Dalam konteks ini, setiap anggota organisasi harus memiliki kesadaran untuk bekerja secara bersama-sama guna mencapai tujuan bersama. Serta menyoroti pentingnya proporsi dalam kepemimpinan organisasi. Dia percaya bahwa dengan berkolaborasi, pimpinan organisasi dapat mendistribusikan tanggung jawab dengan proporsional. Hal ini akan memastikan setiap anggota memiliki peran dan kontribusi yang sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan keahliannya masing-masing. Dengan demikian, organisasi dapat berjalan dengan efisien dan hasil kerja yang optimal dapat dicapai.
Kesembilan pimpinan tersebut nantinya dapat bekerja dengan kompak sesuai dengan anggota formatur terpilih, kemudian akan bermusyawarah untuk menentukan susunan struktur kepemimpinan dari pimpinan cabang Muhammadiyah maupun Aisyiah 5 tahun mendatang.
Powered by Froala Editor