MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN.OR.ID, KEDUNGWUNI Bukan sekadar perayaan milad, bukan pula sekadar rutinitas pengajian Ahad pagi. Ribuan warga Muhammadiyah dan 'Aisyiyah se-Cabang Pekajangan membuktikan bahwa denyut nadi dakwah Persyarikatan masih berdetak kuat. Lebih dari 2.000 jamaah memadati Masjid At-Taqwa Pekajangan dalam Pengajian Ahad Pagi Milad Muhammadiyah Pekajangan ke-104. Gelombang jamaah yang hadir menjadi gambaran nyata besarnya antusiasme warga Persyarikatan dalam menyemarakkan momentum bersejarah ini dengan menghadirkan K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, untuk menyampaikan tausiyah sekaligus menguatkan spirit dakwah dan keberagamaan warga Muhammadiyah. (8/11/2026)
Kehadiran ribuan jamaah tersebut bukan sekadar angka. Ada semangat kebersamaan, kecintaan terhadap Persyarikatan, serta kerinduan untuk terus mendapatkan pencerahan keagamaan yang menyatukan langkah dalam perjuangan dakwah.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pekajangan, H. Abdul Shomad, S.E., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah hadir dan menyemarakkan kegiatan Pengajian Ahad Pagi Milad Muhammadiyah Pekajangan ke 104 ini. Harapannya agar Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A, dapat berkesempatan hadir ke Pekajangan pada kesempatan mendatang.
Lebih dari sekadar menghadiri pengajian, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk menjadikan momentum ini sebagai ruang muhasabah, memperkuat komitmen, serta meningkatkan kualitas pengabdian kepada umat dan masyarakat.
"Marilah kita bermuhasabah, sejauh mana kita telah berkhidmat kepada orang-orang yang ada di sekitar kita dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat." pesannya.
Tak lupa slogan bersinergi dan berkolaborasi kuatkan gerakan, dan hadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi umat dan masyarakat.

Dalam tausiyahnya, K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat berorganisasi, keislaman, dan tanggung jawab umat dalam menjalani kehidupan. Ia mengingatkan bahwa kecintaan terhadap Muhammadiyah harus menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan justru menjadikan organisasi sebagai tujuan akhir perjuangan.
"Muhammadiyah tidak melahirkan kita secara biologis. Karena itu, di atas Muhammadiyah ada Islam, dan di atas segalanya adalah Allah SWT. Itulah modal utama kita untuk kembali kepada-Nya," ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah merupakan wadah perjuangan dan pengabdian, sementara Islam adalah landasan utama dalam seluruh aspek kehidupan. Identitas sebagai warga Muhammadiyah harus melahirkan pribadi yang semakin kuat keimanannya, luas ilmunya, dan nyata kontribusinya bagi umat.
Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk membangun masyarakat yang berilmu secara totalitas. Menurutnya, kemajuan umat tidak cukup hanya dibangun dengan semangat, tetapi harus ditopang oleh tradisi keilmuan, budaya membaca, menulis, berpikir, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah Iqra (bacalah). Perintah ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, ia mengingatkan tentang ayat Nun wal-qalami wa mā yasturūn (Demi pena dan apa yang mereka tuliskan). Ayat ini menegaskan pentingnya ilmu, pena, literasi, dan tradisi intelektual dalam membangun peradaban.
Ia juga mengaitkannya dengan seruan Yā ayyuhal-muddaththir, yang mengandung pesan kebangkitan, pergerakan, dan tanggung jawab untuk memberikan peringatan kepada sesama manusia.
Dari rangkaian pesan tersebut, jamaah diajak memahami bahwa Islam bukan agama yang hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong lahirnya masyarakat yang cerdas, berpengetahuan, produktif, dan memiliki kepedulian sosial.
Dalam kesempatan itu, K.H. Fathurrahman Kamal juga mengangkat spirit Kuntum khaira ummah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 110. Predikat umat terbaik bukanlah sekadar kebanggaan identitas, melainkan amanah besar yang harus dibuktikan melalui keimanan, amar makruf, dan nahi mungkar.

Ia turut menjelaskan kandungan Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 120 yang mengisahkan Nabi Ibrahim AS sebagai sosok teladan, pribadi yang taat, hanif, dan tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.
Keteladanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa kualitas seorang muslim tidak ditentukan oleh banyaknya pengakuan, melainkan oleh keteguhan tauhid, ketaatan kepada Allah, serta keberanian menjaga prinsip kebenaran.
Pesan besarnya jelas: menjadi warga Muhammadiyah tidak cukup hanya bangga dengan nama besar persyarikatan. Harus ada peningkatan iman, penguasaan ilmu, keteguhan tauhid, dan keberanian menghadirkan perubahan.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang bukan hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga berilmu, berakhlak, berintegritas, serta mampu menjadi solusi bagi persoalan umat dan bangsa.
Sebab, pada akhirnya, seluruh aktivitas, pengabdian, dan perjuangan yang dilakukan harus bermuara pada satu tujuan utama: mencari rida Allah SWT dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya.
Dari Masjid At-Taqwa Pekajangan, semangat itu kembali digaungkan. Milad ke-104 bukan sekadar perayaan usia, melainkan panggilan untuk memperkuat barisan, memperluas manfaat, dan memastikan dakwah Muhammadiyah terus hadir menjawab tantangan zaman.

Kontributor : Sukani (MPI PCM Pekajangan)
Powered by Froala Editor